Kabaristimewa.id Samarinda – Aksi demonstrasi mahasiswa di Samarinda pada 21 April 2026 dinilai mencerminkan kedewasaan masyarakat dalam menyampaikan aspirasi di ruang publik. Penilaian tersebut disampaikan oleh ahli linguistik forensik sekaligus Widyabasa Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Timur, Ali Kusno.
Ia melihat demonstrasi tidak sekadar unjuk rasa, tetapi sebagai fenomena komunikasi yang kompleks. Menurutnya, aksi tersebut menunjukkan penggunaan bahasa, simbol, dan gestur sebagai sarana kritik terbuka yang tetap menjaga kesantunan.
“Peristiwa ini menunjukkan bagaimana masyarakat mampu mengelola perbedaan tanpa meninggalkan etika,” ujarnya.
Ali menilai masyarakat Kalimantan Timur memiliki kesadaran kolektif dalam menjaga arah gerakan. Ia menyebut kondisi tersebut sebagai bentuk kemenangan moral publik dari potensi provokasi yang dapat memicu konflik.
“Apa yang terjadi merupakan kemenangan bersama. Publik memiliki kendali atas arah gerakan,” katanya.
Ia juga mengapresiasi peran mahasiswa dalam aksi tersebut. Menurutnya, mahasiswa mampu mempertahankan substansi tuntutan tanpa terjebak kepentingan pragmatis, serta tetap menjunjung etika dalam menyampaikan aspirasi.
“Mahasiswa menunjukkan bahwa keberanian bersuara tetap bisa sejalan dengan martabat,” jelasnya.
Terkait belum adanya dialog langsung antara mahasiswa dan pemerintah provinsi, Ali menilai hal tersebut masih wajar. Ia menyebut kemungkinan ada pertimbangan keamanan dan strategi komunikasi.
“Dialog bisa dilakukan pada waktu yang lebih kondusif. Yang penting tuntutan sudah tersampaikan,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan meningkatnya kritik dari masyarakat menjadi indikator positif pembangunan daerah. Menurutnya, sikap kritis mencerminkan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
“Kritik menjadi mekanisme kontrol agar pembangunan tetap berjalan sesuai arah,” tegasnya.
Ali juga mengingatkan adanya potensi pihak yang memanfaatkan situasi untuk kepentingan tertentu. Ia meminta masyarakat tetap waspada agar tidak terjebak dalam narasi yang merugikan.
“Kita harus hati-hati terhadap pihak yang mengambil keuntungan dari situasi,” katanya.
Ia mendorong pemerintah, perguruan tinggi, dan media melakukan evaluasi pasca aksi. Menurutnya, komunikasi publik yang terbuka, koordinasi yang baik, serta informasi yang akurat menjadi kunci menjaga stabilitas.
“Pemerintah harus terbuka, kampus aktif, dan media menjaga akurasi,” tuturnya.
Ali mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan peristiwa ini sebagai bahan refleksi bersama. Ia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara sikap kritis dan upaya pembangunan.
“Kita harus tetap kritis dan produktif untuk masa depan daerah,” pungkasnya.








