Lubang Raksasa 3 Hektare di Aceh Tengah Dipastikan Bukan Sinkhole, Ini Penjelasan Piping Erosion

admin

Kabaristimewa.idFenomena lubang besar yang terus meluas di Kampung Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, akhirnya mendapat penjelasan ilmiah. Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Aceh menegaskan, kejadian tersebut bukan lubang ambles atau sinkhole seperti yang dikhawatirkan warga.

Seperti dilansir dari Kompascom, lubang yang kini melebar hingga lebih dari 30.000 meter persegi atau sekitar 3 hektare itu mulai mengancam permukiman dan fasilitas umum. Dampaknya sudah terasa pada infrastruktur vital. Sebuah tower saluran udara tegangan ekstra tinggi milik PT PLN Persero harus dipindahkan karena posisinya sangat dekat dengan tepi lubang. Pemindahan ini sempat memicu pemadaman listrik di wilayah Aceh Tengah dan Bener Meriah.

Baca juga  Peninjauan Ria Ricis di Aceh–Sumut–Sumbar: Rumah Hanyut hingga Bantuan Minim

Hasil kajian resmi telah disampaikan Dinas ESDM Aceh kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah melalui surat tertanggal 27 Januari 2026. Dalam laporan tersebut disebutkan, pada 30 Mei 2022 luas area pergerakan tanah masih sekitar 28.000 meter persegi.

Seiring waktu, area tersebut terus bertambah hingga mencapai 30.172 meter persegi. Pergerakan tanah kini sudah menyentuh badan jalan utama dan berkembang ke arah tenggara. Tim peneliti mencatat, gejala pergerakan tanah di Desa Pondok Balik sebenarnya telah berlangsung secara berkelanjutan sejak 2011.

Baca juga  Herdman Terpukau Atmosfer GBK dan Semangat Suporter Indonesia

Kepala Bidang Geologi dan Air Tanah Dinas ESDM Aceh, Ikhlas, menjelaskan bahwa fenomena di ruas Jalan Buter menuju Pondok Balik secara teknis disebut piping erosion. Ia menyebut, peristiwa tersebut merupakan erosi bawah permukaan yang dipicu aliran air tanah dan air permukaan pada lereng curam, serta dapat diperparah oleh hujan dan aktivitas gempa bumi.

Baca juga  DPRD Kukar Kecam Intimidasi Korban Pencabulan Anak

Ikhlas menegaskan, karakteristik kejadian di Ketol berbeda dengan sinkhole. Sinkhole umumnya terjadi di wilayah dengan lapisan batu gamping atau batuan karbonat yang mudah larut oleh air tanah. Proses pelarutan ini membentuk rongga di bawah permukaan sehingga tanah di atasnya rentan runtuh.

Sementara itu, kondisi di Ketol lebih dipengaruhi oleh pengikisan tanah akibat aliran air di bawah permukaan pada medan yang terjal. Faktor tersebut menyebabkan tanah terus bergerak dan membentuk lubang besar yang semakin meluas dari waktu ke waktu.

Berita-berita terbaru