Kabaristimewa.id, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Hingga Rabu (16/9/2026), sedikitnya enam provinsi melaporkan kejadian karhutla dengan total luasan mencapai ratusan hektare.
Dilansir dari CNN Indonesia, Sumatera Selatan menjadi wilayah dengan luasan lahan terbakar paling besar dalam data BNPB. Luas area yang terdampak mencapai lebih dari 531 hektare dengan 24 titik api.
“Untuk Sumatra Selatan, per kemarin ada luas lahan terbakar itu 531 hektar lebih dengan jumlah titik api sebesar 24,” kata Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton Panjaitan dalam konferensi pers di Kantor Kemenko Polkam, Jakarta, Kamis (17/9/2026).
Dari total luasan tersebut, sekitar 240 hektare telah berhasil dipadamkan. Namun, penanganan masih menghadapi kendala cuaca. Kondisi atmosfer di Sumatera Selatan belum mendukung pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
“Dan kondisi cuaca tidak memungkinkan adanya OMC (Operasi Modifikasi Cuaca) dan pertumbuhan awan juga tidak ditemukan. Visibilitas di bawah 4 km dan penerbangan relatif normal,” ujar Berton.
Selain Sumatera Selatan, BNPB melaporkan karhutla terjadi di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Jambi dan Riau. Kondisi di masing-masing wilayah berbeda, baik dari sisi luasan lahan terbakar maupun jumlah titik api.
Di Kalimantan Barat, BNPB mencatat tujuh titik api dengan luasan lahan terbakar sekitar 122,9 hektare. Sebanyak 65,6 hektare telah berhasil dipadamkan, sedangkan sekitar 57,3 hektare masih dalam penanganan.
Upaya pemadaman di wilayah tersebut turut mendapat dukungan dari Jepang. Sebanyak tiga helikopter Chinook disiapkan untuk membantu operasi penanganan karhutla.
“Sedangkan bantuan helikopter dari Jepang, yaitu Chinook yang ada 3, kemarin sudah dilakukan beroperasi 1 sorti. Ini karena memang jarak pandang yang relatif kecil. Nah ini keterangan untuk tanggal 16 kemarin, 1 Chinook sudah bekerja 1 sorti. Sedangkan yang lainnya test flight dan maintenance flight,” jelas Berton.
Di Kalimantan Tengah, luas lahan yang terbakar telah mencapai lebih dari 218 hektare dengan 94 titik api. BNPB mencatat sekitar 108,7 hektare sudah dipadamkan, sementara kurang lebih 110 hektare masih tersisa.
Kalimantan Selatan juga mengalami karhutla dengan 36 titik api dan luasan lahan terbakar lebih dari 131 hektare. Dari jumlah tersebut, sekitar 96,8 hektare telah berhasil ditangani.
Sementara itu, Jambi mencatat 39 titik api dengan luasan lahan terbakar lebih dari 106 hektare. Sekitar 65 hektare telah dipadamkan dan masih terdapat kurang lebih 41,5 hektare yang belum tertangani.
Di Riau, BNPB mencatat luasan karhutla lebih dari 53 hektare dengan 21 titik api. Sebanyak 29 hektare lebih telah berhasil dipadamkan, sedangkan sekitar 23,8 hektare masih terbakar.
“Berhasil dipadamkan lebih dari 29 hektar, dan yang belum berhasil dipadamkan 23,8 hektar. Kondisi cuaca juga di sana sangat kering, sehingga OMC tidak dimungkinkan untuk kita laksanakan karena pertumbuhan awan tidak ada di Riau,” kata Berton.
Data tersebut menunjukkan kondisi cuaca kering masih menjadi salah satu tantangan utama dalam penanganan karhutla. BNPB bersama pemerintah daerah dan unsur terkait terus melakukan pemadaman serta pemantauan terhadap titik api di wilayah terdampak.








