Kutai Kartanegara – Di tengah rimbunnya pepohonan Desa Kota Bangun III, ada sebuah hamparan air tenang yang memantulkan langit biru. Itulah Danau Kumbara, sebuah keajaiban alam yang lahir dari bekas lahan tambang. Kini, tempat ini tak lagi menyisakan cerita kelam masa lalu, melainkan menyajikan wajah baru sebagai destinasi wisata yang penuh pesona.
Saat pagi tiba, kabut tipis kerap bergelayut di permukaan danau. Burung-burung kecil beterbangan, sementara hembusan angin membawa aroma segar pepohonan sekitar. Permukaan air yang jernih berubah warna mengikuti langit: biru cerah di siang hari, keemasan saat senja, dan temaram ketika bulan mulai naik.
Pemandangan ini membuat siapa pun yang datang merasa seakan memasuki dunia lain jauh dari hiruk pikuk kota, dekat dengan ketenangan yang alami. Tak sedikit wisatawan yang datang untuk sekadar duduk di tepi danau, menatap langit, sambil merasakan kedamaian yang jarang ditemukan di tempat lain.
Danau Kumbara dulunya hanyalah bekas galian tambang. Bagi sebagian orang, bekas tambang identik dengan kerusakan. Namun, warga Desa Kota Bangun III membuktikan bahwa dengan semangat, bekas luka alam bisa disulap menjadi peluang baru.
Berawal dari inisiatif pemuda desa yang tergabung dalam Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata), kawasan ini perlahan dibenahi. Mereka membersihkan jalur masuk, membuat titik-titik camping, hingga membangun fasilitas sederhana agar wisatawan bisa menikmati pengalaman berkemah di alam terbuka.
“Kami ingin orang-orang tahu bahwa bekas tambang tidak selalu berarti rusak. Dengan kerja keras, bisa jadi tempat yang indah dan bermanfaat,” kata Hendri, salah satu anggota Pokdarwis.
Langkah masyarakat ini mendapat sambutan positif dari Dinas Pariwisata (Dispar) Kukar. Bantuan nyata berupa tenda glamping, pelatihan, dan pendampingan manajemen diberikan agar pengelolaan wisata lebih terarah.
“Kami melihat Danau Kumbara sebagai contoh sukses pengembangan wisata berbasis masyarakat. Harapannya, kawasan ini tidak hanya dikenal, tetapi juga bisa memberi manfaat ekonomi dan menjaga kelestarian alam,” ujar Ridha Fatrianta, Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Wisata Dispar Kukar.
Bagi pecinta alam, Danau Kumbara adalah surga. Kawasan ini sudah dilengkapi area camping yang nyaman, cocok untuk keluarga maupun komunitas. Wisatawan juga bisa menikmati aktivitas memancing, berkeliling dengan perahu kecil, hingga sekadar piknik bersama teman.
Salah satu daya tariknya adalah pengalaman glamping berkemah dengan fasilitas modern. Wisatawan bisa menikmati suasana malam ditemani gemerlap bintang tanpa harus repot membawa perlengkapan.
Di sisi lain, warga sekitar mulai memanfaatkan peluang dengan menjual kuliner khas, menyewakan perlengkapan outdoor, hingga membuka homestay sederhana. Perlahan tapi pasti, geliat ekonomi lokal pun ikut bangkit.
Kutai Kartanegara memang kaya dengan destinasi wisata, mulai dari pulau, air terjun, hingga budaya tradisional. Namun, kehadiran Danau Kumbara menambah variasi baru. Jika wisatawan ingin mencari suasana tenang, dekat dengan alam, dan jauh dari kebisingan, maka danau ini adalah jawabannya.
“Banyak pengunjung yang datang hanya untuk healing. Mereka bilang, suasana di sini bikin tenang dan fresh,” ungkap Sulastri, pedagang makanan ringan di kawasan wisata.
Meski kian populer, Danau Kumbara masih dihadapkan pada sejumlah tantangan. Jalan menuju lokasi masih perlu peningkatan agar lebih ramah kendaraan. Fasilitas umum seperti toilet, area parkir, dan papan informasi juga masih terbatas.
Namun, menurut Ridha, hal ini menjadi agenda yang akan terus dikembangkan bersama dinas terkait. “Kami ingin memastikan wisatawan merasa nyaman. Dengan begitu, mereka akan datang kembali dan menceritakan pengalaman baiknya kepada orang lain,” jelasnya.
Salah satu keunggulan Danau Kumbara adalah konsepnya yang berbasis masyarakat dan berorientasi keberlanjutan. Pengelolaan dilakukan dengan memperhatikan daya dukung lingkungan. Pengunjung diimbau menjaga kebersihan, tidak merusak ekosistem, dan menghormati aturan yang berlaku.
“Bagi kami, menjaga alam sama pentingnya dengan mendatangkan wisatawan. Karena kalau alam rusak, maka daya tarik wisata juga akan hilang,” tegas Hendri.
Ke depan, Pokdarwis bersama Dispar Kukar berencana mengembangkan paket wisata yang lebih variatif. Mulai dari wisata edukasi lingkungan, ekowisata, hingga paket kombinasi dengan destinasi lain di sekitarnya. Dengan demikian, Danau Kumbara tidak hanya menjadi tempat singgah, tetapi juga destinasi utama bagi wisatawan.
Selain itu, promosi digital akan diperkuat melalui media sosial dan kerja sama dengan influencer lokal. Kalender event juga akan disusun untuk menarik lebih banyak pengunjung dari luar daerah.
Danau Kumbara adalah kisah tentang bagaimana masyarakat dan alam berkolaborasi. Dari lahan tambang yang ditinggalkan, lahirlah destinasi yang menawarkan kedamaian. Dari tangan-tangan warga lokal, tumbuhlah harapan baru yang kini diperkuat pemerintah.
Dengan potensi alam yang menawan, dukungan berkelanjutan, serta semangat masyarakat yang tak pernah padam, Danau Kumbara bukan sekadar destinasi wisata. Ia adalah simbol transformasi bahwa dari sisa luka alam, bisa lahir ruang baru yang penuh keindahan dan manfaat.








