Badai Ragasa Picu Korban Jiwa, Evakuasi Massal, dan Pembatalan Penerbangan

admin

Topan Super Ragasa menghantam Tseung Kwan O, di Hong Kong. Foto/Reuters/Andre Lange

Kabaristimewa.id, China – Super Topan Ragasa dinobatkan sebagai siklon tropis terkuat di dunia tahun 2025. Administrasi Meteorologi China bahkan menjulukinya sebagai “Raja Badai.” Bencana ini telah menimbulkan korban jiwa, kerusakan besar, serta evakuasi massal di sejumlah negara Asia.

Peringatan yang dikeluarkan Hong Kong Observatory menyebutkan bahwa angin lokal akan semakin kuat. Area yang sebelumnya aman, kini diperkirakan bisa berubah menjadi rawan terpaan badai. Warga diminta meningkatkan kewaspadaan.

Di Taiwan, sedikitnya 14 orang sudah dipastikan meninggal dunia. Tim penyelamat masih mencari 152 orang lain yang hilang akibat runtuhnya bendungan alami yang melepaskan 68 juta ton air. Luapan banjir menghantam Guangfu Township dengan dahsyat.

China selatan juga mengalami dampak besar. Hampir dua juta penduduk terpaksa dievakuasi untuk menghindari ancaman badai. Di Provinsi Guangdong saja, sekitar 370.000 orang sudah dipindahkan dari rumah mereka.

Baca juga  Mitos Kunto Bimo: Tindakan Macron di Borobudur Picu Perdebatan

Maskapai Cathay Pacific turut terdampak badai besar ini. Lebih dari 500 penerbangan ke kota-kota utama dunia, termasuk San Francisco, Vancouver, dan Zurich, dibatalkan. Operasional di Bandara Internasional Hong Kong lumpuh pada 23–24 September.

Tak hanya penerbangan, otoritas di China juga memutuskan untuk menutup sekolah dan tempat usaha di sedikitnya 10 kota. Langkah itu diambil demi keselamatan publik. Cuaca lokal diperkirakan masih memburuk dengan hujan deras dan badai petir.

Gelombang laut luar biasa dengan swell besar menjadi ancaman tambahan. Pemerintah memperingatkan masyarakat agar menjauhi perairan dan menghentikan aktivitas olahraga air. Peringatan keras ini dikeluarkan untuk mengurangi korban jiwa.

Baca juga  Presiden Prabowo Tiba di Malaysia, Terima Penghargaan Tertinggi dari Kesultanan Johor

Topan Ragasa yang dikenal sebagai Nando di Filipina terbentuk pada pertengahan September. Bermula dari utara Yap, badai ini menguat pesat di atas perairan Samudra Pasifik Barat yang sangat hangat. Kondisi atmosfer mendukung terjadinya intensifikasi cepat.

Pada Senin (22/9/2025), Ragasa resmi masuk kategori super topan. Joint Typhoon Warning Center mencatat kecepatan angin maksimum 165 mph, setara badai hurricane kategori 5 di Atlantik. Intensitas tinggi ini menjadikannya topan paling kuat tahun ini.

Filipina, Taiwan, dan China bagian selatan berada di jalur perkiraan Ragasa. Di Filipina, badai ini memicu evakuasi massal, listrik padam, serta banjir dan longsor di wilayah Luzon Utara. BMKG menegaskan Indonesia tidak akan dilintasi langsung, namun dampak tidak langsung tetap terjadi.

Baca juga  India, China, dan Jepang Paling Sengsara Jika Iran Lakukan Penutupan Total Selat

BMKG menyebut potensi hujan intensitas sedang hingga lebat bisa melanda wilayah Indonesia hingga 29 September 2025. Cuaca ekstrem ini menjadi efek tidak langsung Ragasa. Peringatan dini pun disampaikan agar masyarakat siap menghadapi kondisi buruk.

Dalam ilmu meteorologi, istilah super topan digunakan untuk badai dengan angin rata-rata setidaknya 150 mph. “Dalam kasus Ragasa, data JTWC menunjukkan angin maksimum mencapai 165 mph,” jelas catatan resmi. Fakta ini menempatkan Ragasa dalam kelas paling berbahaya.

Fenomena Ragasa mengingatkan kembali pada sejarah panjang badai mematikan di Asia. Kawasan ini memang berada di Typhoon Belt, jalur utama badai tropis dunia. Ragasa memperlihatkan bahwa Asia Timur dan Tenggara masih sangat rentan bencana topan berskala besar.

Sumber : https://www.cnbcindonesia.com/research/20250924153143-128-669880/mengenal-topan-ragasa-raja-badai-asia-yang-hantam-china–filipina

Berita-berita terbaru

Tinggalkan komentar