Kutai Kartanegara – Desa bukan lagi sekadar wilayah administratif, melainkan arena penting bagi tumbuhnya inovasi ekonomi kreatif (ekraf). Kesadaran inilah yang mendorong Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) untuk memperluas jangkauan program ekraf hingga ke pelosok kecamatan. Dengan strategi ini, ekraf tidak hanya menjadi ruang ekspresi kreatif, tetapi juga sarana pemberdayaan masyarakat desa agar lebih mandiri secara ekonomi.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dispar Kukar, Arianto, menegaskan bahwa penguatan ekraf di desa merupakan langkah strategis untuk menyeimbangkan pembangunan. “Kalau hanya di pusat kota, dampaknya tidak akan terasa merata. Justru di desa inilah potensi besar kita berada. Karena itu, pembinaan ekraf harus sampai ke tingkat komunitas,” jelasnya.
Di banyak desa di Kukar, potensi ekraf sesungguhnya sudah ada sejak lama. Mulai dari kuliner berbasis hasil bumi, kerajinan tangan dari bahan lokal, hingga seni pertunjukan tradisi. Namun, potensi ini sering terhambat oleh keterbatasan akses promosi, minimnya fasilitas, serta lemahnya manajemen usaha.
“Warga sebenarnya kreatif, tapi kalau tidak ada pembinaan, produk mereka sulit naik kelas. Nah, Dispar hadir untuk menjembatani itu,” ujar Arianto.
Salah satu contoh nyata adalah Desa Kota Bangun III. Dulunya dikenal sebagai lokasi bekas tambang, kini desa ini mulai berkembang berkat kehadiran Danau Kumbara sebagai destinasi wisata berbasis komunitas. Pokdarwis setempat menggabungkan wisata dengan penjualan produk kuliner dan kerajinan, sehingga ekonomi desa lebih berputar.
Dispar Kukar telah menjalankan berbagai bentuk dukungan untuk desa. Pelatihan menjadi langkah pertama, baik dalam keterampilan teknis seperti videografi, animasi, maupun dalam manajemen usaha sederhana. Dengan begitu, pelaku ekraf desa tidak hanya pandai membuat produk, tetapi juga mampu mengelola bisnis dengan profesional.
Selain itu, fasilitasi ruang usaha juga menjadi prioritas. Tidak semua pelaku di desa bisa masuk ke pusat kota, sehingga pemerintah berencana menghadirkan sentra ekraf kecil di setiap kecamatan.
“Konsepnya sederhana, tapi dampaknya besar. Dengan adanya ruang usaha lokal, warga desa punya tempat untuk memamerkan sekaligus menjual produk mereka,” jelas Arianto.
Pendekatan berbasis komunitas menjadi strategi utama. Dispar Kukar menggandeng kelompok sadar wisata (Pokdarwis), karang taruna, hingga kelompok perempuan desa untuk mengelola kegiatan ekraf. Tujuannya jelas: membangun rasa memiliki sekaligus memperkuat solidaritas warga.
“Kalau hanya individu, biasanya tidak bertahan lama. Tapi kalau komunitas yang bergerak, ada gotong royong di situ. Hasilnya lebih kuat dan lebih berkelanjutan,” tambah Arianto.
Pendekatan ini juga memudahkan proses regenerasi. Anak-anak muda bisa terlibat dalam kegiatan ekraf desa, baik sebagai kreator konten digital, pengrajin, maupun pengelola event lokal. Dengan begitu, ekraf tidak hanya menghidupkan ekonomi, tapi juga menjadi ruang aktualisasi generasi muda.
Nurhayati, pengrajin anyaman dari Kecamatan Sebulu, mengaku mulai merasakan manfaat program Dispar Kukar. “Dulu saya hanya bikin anyaman untuk dipakai sendiri. Setelah ada pelatihan, saya belajar bikin variasi produk, ada tas, ada hiasan rumah. Sekarang sudah bisa dijual ke luar desa,” katanya.
Cerita serupa datang dari Risman, pemuda di Desa Loa Kulu. Ia bersama komunitasnya mengembangkan produk kopi lokal. “Kami dulu hanya menjual kopi seadanya. Sekarang kami belajar branding dan packaging. Rasanya sama, tapi tampilannya lebih menarik, jadi orang lebih percaya untuk beli,” ujarnya.
Kisah-kisah seperti ini menunjukkan bahwa ekraf memang bisa membuka peluang ekonomi baru di desa. Lebih jauh, ekraf menjadi sarana bagi warga untuk mengangkat identitas lokal ke pasar yang lebih luas.
Sinergi antara ekraf dan pariwisata desa semakin diperkuat. Wisatawan yang datang tidak hanya menikmati panorama, tetapi juga pulang membawa produk lokal sebagai buah tangan. Hal ini memberi nilai tambah yang signifikan bagi desa.
Misalnya, di Muara Wis, wisata sungai kini dipadukan dengan galeri seni dan kuliner. Di Tenggarong Seberang, gua alam Batu Gelap dikembangkan bersama penjualan produk ekraf warga. “Dengan pola ini, wisatawan mendapat pengalaman yang lebih lengkap, sementara desa mendapat pemasukan tambahan,” jelas Arianto.
Meski peluang besar, Arianto mengakui masih ada tantangan yang perlu diatasi. Salah satunya adalah aksesibilitas desa, baik dari sisi infrastruktur jalan maupun jaringan internet. Tanpa infrastruktur yang memadai, distribusi produk ekraf akan sulit berkembang.
Tantangan lain adalah konsistensi pelaku ekraf dalam menjaga kualitas produk. Tidak jarang, produk yang dipamerkan bagus di awal, tetapi menurun kualitasnya ketika permintaan meningkat. “Inilah yang terus kami dampingi. Kalau ingin bersaing, kualitas harus dijaga. Karena konsumen sekarang kritis,” tegas Arianto.
Dispar Kukar merancang visi jangka panjang agar desa-desa di Kukar bisa mandiri secara ekonomi melalui ekraf. Tidak hanya dengan pelatihan dan ruang usaha, tetapi juga melalui promosi digital, festival desa, hingga kerjasama dengan pihak swasta.
“Nanti setiap desa bisa punya paket wisata yang lengkap: ada atraksi, ada kuliner, ada produk ekraf. Jadi wisatawan yang datang merasa puas, dan desa mendapat pemasukan dari berbagai sisi,” pungkas Arianto.
Dengan arah kebijakan ini, ekraf diharapkan menjadi tulang punggung baru ekonomi desa. Bukan hanya mengurangi ketergantungan pada pusat kota, tetapi juga menciptakan rasa bangga bagi masyarakat desa terhadap identitas dan kreativitas mereka sendiri.








