Pengamat Soroti Lemahnya Politik Kelas Jadi Tantangan Partai Buruh di Indonesia

admin

Kabaristimewa.id, Dinamika internal Partai Buruh kembali menjadi perhatian publik setelah Sekretaris Jenderal Ferri Nuzarli bersama sejumlah anggota dan pengurus Organisasi Rakyat Indonesia (ORI) memutuskan mengundurkan diri. Peristiwa tersebut memunculkan kembali pembahasan mengenai tantangan yang dihadapi partai berbasis gerakan buruh dalam kancah politik nasional.

Ferri menyebut pengunduran dirinya dipicu oleh perbedaan pandangan terkait arah perjuangan partai. Keputusan itu muncul tidak lama setelah Presiden Partai Buruh, Said Iqbal, dipercaya mengemban jabatan sebagai Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh.

Menanggapi langkah tersebut, Said Iqbal menilai keluar-masuknya kader merupakan dinamika yang lazim terjadi dalam kehidupan partai politik. Ia juga tidak memberikan tanggapan lebih jauh terkait klaim jumlah anggota yang disebut ikut mengundurkan diri.

Baca juga  Mahasiswa Tetap Aksi di Bundaran HI, Polisi Siapkan Pengamanan dan Opsi Pengalihan

Sejumlah pengamat menilai persoalan yang dihadapi Partai Buruh bukan sekadar konflik internal, melainkan juga berkaitan dengan lemahnya basis politik kelas di Indonesia.

Co-Founder Center for Indonesian Governance and Development Policy (CIGDEP), Cusdiawan, menilai kelompok buruh memiliki jumlah yang besar secara sosial, tetapi belum mampu berkembang menjadi kekuatan politik yang solid. Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi oleh sejarah panjang depolitisasi buruh sejak era Orde Baru yang membuat gerakan pekerja kehilangan tradisi politik berbasis kepentingan kelas.

Ia berpendapat, lemahnya kesadaran politik kelas menyebabkan organisasi buruh mudah terpecah dan lebih rentan dipengaruhi kepentingan elite maupun oligarki. Akibatnya, suara buruh lebih sering menjadi objek perebutan dalam setiap pemilu dibandingkan menjadi kekuatan politik yang mandiri.

Baca juga  Putusan Resmi MK, Gugatan Anies-Muhaimin Ditolak!

Selain faktor tersebut, Cusdiawan juga menilai pola perilaku pemilih di Indonesia tidak lagi didominasi oleh identitas kelas sosial. Pilihan politik masyarakat cenderung dipengaruhi berbagai faktor lain, sehingga partai yang mengusung basis pekerja menghadapi tantangan lebih besar untuk memperluas dukungan elektoral.

Pandangan senada disampaikan Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis, Agung Baskoro. Ia menilai Partai Buruh masih menghadapi persoalan dalam menyatukan berbagai kelompok dan organisasi yang berada di bawah naungannya menjadi kekuatan politik yang solid.

Menurut Agung, partai politik memerlukan struktur organisasi yang kuat serta kemampuan mengakomodasi beragam kelompok agar mampu berkembang secara berkelanjutan.

Baca juga  Isu Politik Memanas, Ahmad Yani Ingatkan Konsekuensi bagi Kader yang Pindah Partai

Ia juga menyoroti terbatasnya basis pemilih Partai Buruh karena identik dengan kelompok pekerja formal, sementara sebagian besar angkatan kerja Indonesia berada di sektor informal seperti pertanian, perikanan, dan perkebunan yang memiliki karakteristik politik berbeda.

Selain itu, Agung menilai keberadaan figur nasional yang memiliki daya tarik luas juga menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan elektabilitas partai. Tanpa tokoh yang kuat dan dikenal masyarakat di berbagai daerah, Partai Buruh dinilai akan terus menghadapi tantangan untuk meningkatkan perolehan suara pada pemilu mendatang.

Berita-berita terbaru