Kabaristimewa.id – Nilai tukar rupiah berpotensi mengalami penguatan di tengah sentimen positif dari rencana pertemuan dagang antara China dan Amerika Serikat (AS). Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebutkan optimisme pasar meningkat setelah adanya sinyal kesepakatan awal antara kedua negara.
Menurut Lukman, pihak AS telah menyampaikan bahwa kerangka dasar pembahasan perdagangan telah disetujui. Namun, ia mengingatkan bahwa China belum memberikan konfirmasi resmi. “Investor tetap berhati-hati karena kemungkinan kegagalan kesepakatan masih bisa terjadi,” jelasnya di Jakarta, Senin (20/10).
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengatakan pertemuannya dengan Presiden China Xi Jinping dijadwalkan berlangsung pekan depan di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) di Korea Selatan pada 30 Oktober 2025. Trump menyebut pertemuan tersebut akan berjalan positif dan menegaskan bahwa tarif 157 persen terhadap China tidak dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
Kedua pemimpin negara tersebut rencananya akan membahas isu perdagangan, tarif impor, serta situasi politik terkait Taiwan. “Namun, penguatan rupiah kemungkinan terbatas karena pelaku pasar juga menunggu hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) dan pertemuan Xi-Trump pekan ini,” ujar Lukman menambahkan.
Selain itu, data inflasi Amerika Serikat yang menunjukkan perlambatan turut memperkuat prospek penguatan rupiah. Inflasi bulan September tercatat naik 0,3 persen, sedikit di bawah perkiraan 0,4 persen. Secara tahunan, inflasi mencapai 3 persen, lebih rendah dari proyeksi 3,1 persen.
Inflasi inti juga menunjukkan tren moderat dengan kenaikan hanya 0,2 persen, menandakan adanya peluang pemangkasan suku bunga oleh The Fed. “Sentimen tersebut dapat memberi ruang bagi rupiah untuk bergerak positif,” kata Lukman.
Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp16.550 hingga Rp16.650 per dolar AS. Pada pembukaan perdagangan Senin, rupiah sempat melemah tipis 3 poin atau 0,02 persen ke posisi Rp16.605 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp16.602 per dolar AS.








