Tenggarong – Pagi itu, suasana Desa Pela ramai. Anak-anak muda bersiap mendayung perahu, sementara ibu-ibu sibuk menyiapkan kuliner khas. Semua kegiatan itu dikoordinasi oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Bekayuh Beumba Bebudaya.
Siapa sangka, komunitas sederhana ini kini dikenal hingga ke luar negeri. Inilah bukti nyata bahwa pariwisata berbasis masyarakat bisa memberi dampak besar.
Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Wisata Dispar Kukar, M. Ridha Fatrianta, menyebut kisah Desa Pela hanyalah satu dari banyak potensi yang ada. Dengan 63 Pokdarwis yang tersebar, Kukar menyimpan kekuatan besar.
Namun, Ridha menekankan bahwa kunci utama ada di masyarakat. “Kami tidak lagi membentuk kelompok dari atas, tapi membiarkan warga yang memulai. Kami hadir sebagai pendamping,” ujarnya.
Transformasi ini mengubah wajah pariwisata Kukar. Dulu masyarakat hanya menjadi penonton, kini mereka aktor utama. Dampaknya terasa nyata: ekonomi desa bergerak, UMKM tumbuh, dan budaya tetap lestari.
Dispar Kukar optimistis pendekatan ini akan menjadikan Kukar sebagai destinasi berkelas. Lebih dari itu, kisah sukses seperti Desa Pela bisa menjadi inspirasi bagi desa-desa lain, bahkan di luar Kukar.
Dari Sungai ke Dunia, Kisah Pokdarwis Kukar Membangun Wisata Mandiri








