Densus 88 Ungkap 110 Anak Direkrut Jaringan Teror Lewat Game Online

admin

Ilustrasi. Bermain game online. Foto/dok. Shutterstock

Kabaristimewa.id – Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri mengungkap jaringan terorisme yang memanfaatkan media sosial dan game online untuk merekrut ratusan anak di berbagai wilayah Indonesia. Pengungkapan ini dilakukan setelah penyelidikan selama setahun, yang kemudian berujung pada penangkapan lima tersangka. Dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta Selatan, AKBP Mayndra Eka Wardhana menyampaikan bahwa, “Dalam setahun ini ada lima tersangka (dewasa) yang sudah diamankan oleh Densus 88.”

Menurut Mayndra, kelima tersangka ditahan melalui tiga kali pengungkapan sejak akhir 2024 hingga November 2025. Para pelaku itu diduga telah merekrut lebih dari 110 anak dan pelajar dari berbagai daerah. Ia menegaskan tingginya angka itu dengan mengatakan, “Pada tahun ini, di tahun 2025 sendiri, seperti kurang lebih lebih dari 110 (anak dan pelajar yang saat ini sedang teridentifikasi).

Baca juga  Di Manado, Buronan Kasus Pencabulan Anak Ditangkap Setelah 7 Tahun Pelarian

Penyelidikan Densus 88 menemukan bahwa para tersangka berperan aktif sebagai perekrut serta pengendali komunikasi kelompok melalui platform digital. Brigjen Trunoyudo Wisnu Andiko menjelaskan bahwa para pelaku mempengaruhi anak-anak agar menerima paham radikal. Ia menuturkan, “Atas peranannya merekrut dan memengaruhi anak-anak tersebut supaya menjadi radikal, bergabung dengan kelompok terorisme dan melakukan aksi teror.”

Tersangka yang ditahan terdiri atas FW alias YT (47), LM (23), PP alias BMS (37), MSPO (18), serta JJS alias BS (19). Beberapa di antara mereka disebut sebagai pemain lama yang sebelumnya pernah diproses hukum. Mayndra menjelaskan bahwa sebagian tersangka memiliki keterkaitan dengan jaringan Ansharut Daulah yang berafiliasi dengan ISIS, seraya menyampaikan, “Diketahui jaringannya berasal dari jaringan ISIS atau Ansharut Daulah.”

Densus 88 juga mencatat bahwa pola rekrutmen dilakukan sepenuhnya secara daring, tanpa adanya pertemuan fisik antara pelaku dan korban. Interaksi biasanya dimulai melalui platform terbuka seperti Facebook, Instagram, hingga game online, yang kemudian berlanjut ke grup terenkripsi. Mayndra memaparkan, “Di situ mereka juga ada sarana komunikasi chat… lalu mereka dimasukkan kembali ke dalam grup yang lebih khusus, yang lebih terenkripsi.”

Baca juga  Viral Suara Dewasa Tak Senonoh di GBK, Manajemen Evaluasi Sistem Audio dan Petugas

Dalam grup-grup kecil itu, proses indoktrinasi kemudian dilakukan secara bertahap dengan memanfaatkan ketertarikan anak pada fantasi dunia maya. Para korban dihimpun melalui WhatsApp atau Telegram sebelum disuguhi konten yang mengarah ke radikalisme. Mayndra menjelaskan mekanisme tersebut dengan mengatakan, “Anak-anak dibikin tertarik dulu, kemudian mengikuti grup, kemudian diarahkan kepada grup yang lebih privat… di situlah proses-proses indoktrinasi berlangsung.”

Selain mengungkap teknik perekrutan, Polri menemukan adanya peningkatan signifikan jumlah anak yang terpapar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Data menunjukkan hanya 17 anak diamankan pada periode 2011–2017, namun peningkatan drastis terjadi pada 2025. Menanggapi lonjakan itu, Mayndra menegaskan, “Ada proses yang sangat masif sekali rekrutmen yang dilakukan melalui media daring.”

Baca juga  Kolaborasi K-Pop dan Kopi: BABYMONSTER Bintangi Campaign Good Day

Sementara itu, Brigjen Trunoyudo Wisnu Andiko menilai tingginya kerentanan anak terhadap pengaruh radikal turut dipengaruhi faktor sosial. Ia menyebutkan bullying, kondisi broken home, minimnya perhatian keluarga, serta kurangnya literasi digital sebagai penyebab anak mudah dimanfaatkan jaringan teror. Ia menegaskan hal tersebut dengan menyebut, “Kerentanan anak dipengaruhi faktor sosial… bullying, broken home, marginalisasi sosial, serta minimnya kemampuan literasi digital dan pemahaman agama.” Polri memastikan seluruh anak yang teridentifikasi sebagai korban tengah ditangani bersama kementerian dan lembaga perlindungan anak.

Sumber : https://news.detik.com/berita/d-8217288/terbongkar-ratusan-anak-direkrut-jaringan-terorisme-lewat-game-online?page=5

Berita-berita terbaru