Kabaristimewa.id Samarinda – Petala Borneo Indonesia menandai langkah awalnya lewat konser mandiri bertajuk “Malam Pelipur Lara” di Temindung Creative Hub, Samarinda. Pertunjukan ini menjadi penampilan perdana mereka yang digarap secara independen, sekaligus ruang menyampaikan gagasan musik tradisi dengan pendekatan kekinian.
Delapan musisi tampil di panggung, dipimpin Achmad Fauzi selaku pendiri dan komposer. Mereka menyuguhkan komposisi yang memadukan unsur kemelayuan, petikan gambus, dan warna budaya Kutai dalam aransemen modern yang rapi dan berkarakter.
Nama konser diambil dari salah satu lagu ciptaan mereka. Karya tersebut mengangkat pesan tentang menjalani hidup tanpa kecemasan berlebih, dengan keyakinan pada jalan yang telah ditentukan. Lagu ini menjadi benang merah dari keseluruhan pertunjukan malam itu.
Konser mandiri ini lahir dari kegelisahan panjang. Selama bertahun-tahun, Petala lebih sering hadir di panggung undangan dan festival. Menurut Fauzi, format tersebut belum memberi ruang penuh untuk mengekspresikan konsep musikal yang utuh.
“Lewat konser sendiri, kami lebih leluasa menyampaikan apa yang ingin kami bicarakan lewat musik,” ujar Fauzi usai konser, Rabu malam (11/2/2026).
Selain pertunjukan, acara ini juga menjadi ajang temu dengan penikmat dan komunitas musik dari Tenggarong serta Samarinda. Diskusi tentang arah musik tradisi turut mengemuka, terutama soal potensi ekonomi yang bisa tumbuh dari karya berbasis budaya lokal.
Fauzi menegaskan musik tradisi tidak cukup hanya dijaga sebagai warisan. Ia perlu dikembangkan sebagai produk kreatif yang bernilai jual dan mampu menopang kehidupan para pelakunya.
Ia juga menyinggung bahwa wacana membawa musik daerah Kalimantan Timur ke tingkat nasional bahkan global sudah lama bergulir. Namun, langkah konkret masih terbatas. Menurutnya, daerah ini memiliki modal kuat dari tradisi Melayu, Dayak pedalaman, hingga budaya Kesultanan yang bisa dikemas sesuai selera masa kini.
Optimisme itu mulai terlihat. Sejumlah lagu Petala kini dibawakan ulang oleh musisi dari Sumatera dan Jawa. Hal tersebut menjadi sinyal bahwa musik Kutai memiliki jangkauan yang lebih luas.
Konser “Malam Pelipur Lara” digelar secara swadaya dengan memanfaatkan Temindung Creative Hub, ruang kreatif yang terbuka bagi pelaku ekonomi kreatif. Petala memilih bergerak dengan sumber daya yang ada, tanpa menunggu kondisi ideal.
“Kalau menunggu semuanya siap, karya tidak akan pernah jalan. Yang penting berani mulai,” kata Fauzi.
Malam tersebut juga menandai perubahan identitas. Setelah satu dekade dikenal sebagai Olah Gubang, mereka kini melangkah dengan nama Petala Borneo. Sepuluh lagu dibawakan sebagai gambaran album kedua yang sedang disiapkan. Lima lagu sudah tersedia di platform digital, sementara sisanya masih dalam proses produksi.
Bagi Fauzi, karya adalah penanda keberadaan seorang seniman. Ia percaya karya yang akan berbicara kepada publik tentang siapa penciptanya.
Konser ini turut dihadiri Direktur Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Otorita Ibu Kota Nusantara Muhsin Palinrungi, Kepala Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata Kutai Kartanegara Zikri Umulda, serta Anggota DPRD Kutai Kartanegara periode 2024 hingga 2029 Akhmad Akbar Haka Saputra.
Bagi Petala Borneo, “Malam Pelipur Lara” menjadi penanda awal perjalanan baru. Musik tradisi tidak hanya dipertahankan, tetapi terus didorong melangkah dengan pijakan lokal dan pandangan ke panggung yang lebih luas.








