Kabaristimewa.id, TENGGARONG – Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura menegaskan pentingnya menjalin kolaborasi erat dengan pemerintah daerah dalam pelaksanaan Erau Adat Kesultanan yang akan digelar pada tahun 2025. Pernyataan ini disampaikan oleh perwakilan Kesultanan, Heriansyah, dalam pertemuan resmi yang berlangsung di Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Tenggarong, pada hari Rabu, 3 September 2025. Menurutnya, Erau tahun ini tidak hanya menjadi perayaan budaya, tetapi juga menjadi momentum bersejarah karena bertepatan dengan peringatan 243 tahun berdirinya Kota Tenggarong.
Heriansyah menjelaskan bahwa perjalanan panjang sejarah Kota Tenggarong merupakan warisan besar para leluhur yang telah membentuk fondasi kuat bagi masyarakat saat ini. Dalam pandangannya, pemerintah daerah saat ini adalah kelanjutan dari struktur Kesultanan masa lalu, dan karenanya, kesinambungan antara Kesultanan dan pemerintah merupakan hal yang tak terpisahkan. “Pemerintah daerah hari ini adalah bagian dari periodeisasi Kesultanan terdahulu. Karena itu, kolaborasi antara Kesultanan dan pemerintah daerah harus terus berjalan,” ujar Heriansyah dalam keterangannya.
Lebih lanjut, Heriansyah menegaskan bahwa kolaborasi bukan hanya soal kepentingan budaya, melainkan juga menjadi strategi bersama dalam menciptakan kesejahteraan masyarakat. Ia meyakini bahwa dengan kebersamaan dan nilai-nilai yang dijaga, masyarakat Kutai Kartanegara akan mampu menghadapi berbagai tantangan zaman. Ia juga menggarisbawahi bahwa kekuatan budaya bisa menjadi pengikat sosial yang memperkuat keharmonisan di tengah keberagaman. “Dengan kebersamaan inilah kita bisa mewujudkan kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Sebagai kerajaan tertua di Indonesia, Kesultanan Kutai Kartanegara memiliki peran besar dalam membentuk jejak sejarah nusantara. Transformasi dari kerajaan Hindu ke Islam disebut Heriansyah sebagai bagian penting dari proses sejarah yang menunjukkan kekayaan nilai budaya dan spiritual yang dimiliki wilayah tersebut. Ia menilai warisan ini bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan bagian dari identitas yang harus dijaga dan diteruskan ke generasi mendatang.
Dalam konteks pembangunan nasional, Kesultanan juga melihat posisi Kutai Kartanegara sebagai bagian dari wilayah strategis Ibu Kota Nusantara (IKN) sebagai peluang besar. Heriansyah menyatakan bahwa perpaduan antara pembangunan fisik dan pelestarian budaya harus berjalan seiring. Menurutnya, inilah saat yang tepat untuk menjadikan semangat lokal sebagai kontribusi menuju visi “Indonesia Emas” tahun 2045. Kesultanan pun berkomitmen menjadikan Erau sebagai panggung budaya yang membanggakan secara nasional.
Salah satu agenda penting dalam Erau 2025 adalah kehadiran Menteri Pariwisata yang diundang secara khusus oleh Kesultanan. Hal ini, menurut Heriansyah, merupakan bagian dari penguatan citra budaya Kutai Kartanegara di tingkat nasional. Ia mengatakan, “Ini bagian dari upaya kita memperkuat budaya. Karena lewat budaya, kita bisa saling menguatkan, menyatukan, dan menjaga keharmonisan meskipun dalam kondisi yang penuh tantangan.”
Tradisi pelarungan replika naga dari Kedaton ke Kutai Lama juga akan kembali dihadirkan dalam Erau mendatang. Heriansyah menjelaskan bahwa simbol naga ini memiliki makna spiritual yang dalam dan menjadi bentuk harapan masyarakat terhadap keberkahan dan keselamatan. Baginya, ritual ini bukan hanya seremonial, tetapi juga pengingat hubungan manusia dengan alam dan kekuatan leluhur.
Menutup pernyataannya, Heriansyah kembali menekankan pentingnya falsafah hidup Kesultanan yang berpijak pada empat nilai utama: roh adat, adat, budaya, dan agama. Ia menyebutkan bahwa nilai-nilai tersebut harus dipadukan dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika sebagai core values masyarakat Kutai Kartanegara. “Harapan kita, Erau 2025 menjadi perekat budaya, memperkuat dan melestarikan tradisi, serta menjadi spirit untuk menyatukan seluruh suku. Dengan begitu daerah kita tetap kondusif dan Kutai Kartanegara bisa terus memberi makna bagi bangsa,” tutupnya dengan penuh harap.
Adv/DiskominfoKukar








