Pengaruh Dolar di Desa dan Tantangan Hilirisasi Nasional

admin

Kabaristimewa.id Indonesia – Pernyataan Presiden Prabowo Subianto soal masyarakat desa tidak berbelanja menggunakan dolar dinilai benar secara langsung, namun belum sepenuhnya menggambarkan kondisi ekonomi nasional.

Berikut adalah pernyataan dari Dosen Mohammad Aliman Shahmi (Dosen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, UIN Mahmud Yunus, Batusangkar) yang dilansir dari Kompas.com:

Meski transaksi di pasar tradisional dilakukan dengan rupiah, banyak harga kebutuhan masyarakat tetap dipengaruhi biaya produksi global yang bergantung pada dolar Amerika Serikat.

Dalam ulasan mengenai hilirisasi dan ketahanan ekonomi, dijelaskan bahwa pelemahan rupiah tidak hanya berdampak pada pelaku impor, tetapi juga memengaruhi harga BBM, pupuk, pestisida, pakan ternak, mesin pertanian, hingga biaya logistik yang akhirnya dirasakan masyarakat desa.

Baca juga  Konser dan Bantuan Nelayan Dipersoalkan di Debat Pilkada Kukar 2024, Ini Jawaban Edi-Rendi

Kondisi tersebut disebut menunjukkan bahwa ketergantungan Indonesia terhadap impor energi, bahan baku, teknologi, dan mesin masih cukup tinggi. Akibatnya, fluktuasi dolar tetap berpengaruh terhadap harga barang kebutuhan sehari hari.

Pembahasan juga menyoroti konsep hilirisasi yang selama ini kerap diidentikkan dengan pembangunan smelter dan larangan ekspor bahan mentah. Padahal, hilirisasi dinilai perlu diperluas hingga penguasaan teknologi, riset, komponen industri, hingga produk akhir agar manfaat ekonomi lebih besar dirasakan di dalam negeri.

Baca juga  Mitos Kunto Bimo: Tindakan Macron di Borobudur Picu Perdebatan

Pada sektor nikel misalnya, hilirisasi disebut tidak cukup hanya menghasilkan produk turunan, tetapi juga harus mampu mendorong pengembangan baterai kendaraan listrik dan teknologi pendukung lainnya.

Hal serupa juga dinilai penting pada sektor sawit, perikanan, kakao, kopi, kelapa, hingga rumput laut agar desa, koperasi, dan UMKM ikut masuk dalam rantai nilai industri nasional.

Baca juga  Rekonstruksi Kematian Arya Daru, Fokus pada Saksi dan Barang Bukti

Analisis tersebut menegaskan keberhasilan hilirisasi seharusnya tidak hanya diukur dari besarnya investasi dan ekspor, tetapi juga dari kemampuan menekan impor strategis, memperkuat industri domestik, menciptakan lapangan kerja berkualitas, serta mengurangi ketergantungan terhadap dolar.

Hilirisasi yang kuat dinilai akan membuat ekonomi nasional lebih tahan terhadap gejolak kurs, sekaligus memperbesar nilai tambah yang dinikmati masyarakat di dalam negeri.

Penyunting: Wanda Iqwatul Qofifah

Sumber: Kompas.com

Berita-berita terbaru