Kabaristimewa.id, Magelang – Aksi menyentuh arca Buddha di Borobudur oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron menuai kritik publik. Saat berkunjung ke Candi Borobudur pada Kamis (29/5), Macron dan istrinya menyentuh arca yang terdapat dalam stupa di teras tingkat ketujuh. Tindakan itu dianggap bagian dari mitos Kunto Bimo yang telah dilarang oleh pengelola.
Masyarakat sekitar sejak lama mempercayai bahwa Kunto Bimo bisa membawa keberuntungan bagi yang berhasil menyentuh arca Buddha. Dalam mitos tersebut, laki-laki diminta menyentuh jari kelingking arca, sementara perempuan menyentuh tumit atau telapak kaki. Namun, praktik ini tidak memiliki dasar dalam ajaran Buddha.
Lembaga Konservasi Borobudur menyatakan, “Mitos itu tidak diizinkan dengan berbagai alasan, seperti alasan religius.” Aktivitas menyentuh arca dipandang menodai kesucian stupa sebagai simbol sakral umat Buddha. Oleh karena itu, Kunto Bimo telah dilarang sejak beberapa tahun lalu.
Figur publik yang pernah melakukannya pun tercatat, termasuk Putra Mahkota Jepang Fumihito hingga Miss Universe Stefanie Fernandez. Namun, kini praktik itu sudah tak diizinkan karena dikhawatirkan merusak stupa. Relief yang mulai aus menjadi ancaman nyata bagi kelestarian Borobudur.
Candi Borobudur yang berusia lebih dari 1.200 tahun perlu perlindungan ekstra dari tindakan yang merugikan. Karena itu, pengunjung tidak diperbolehkan menyentuh atau memanjat stupa. “Pengunjung seringkali menginjak hingga memanjat stupa itu demi mendapat keberuntungan,” ujar akun konservasi.
Di tengah larangan tersebut, Macron justru menyentuh arca dalam stupa secara terbuka. Banyak pihak menilai tindakan itu tidak memberi teladan yang baik. Bahkan, momen itu dibagikan akun resmi pemerintah di Instagram, menimbulkan respons negatif publik.
Unggahan yang dibagikan oleh @sekretariat.kabinet itu memperlihatkan Macron bersama Presiden Prabowo saat mengunjungi Borobudur. Publik mempertanyakan mengapa pejabat bisa melakukan hal yang dilarang bagi masyarakat umum. Netizen menyayangkan sikap tidak sensitif terhadap budaya lokal.
Dengan berbagai kontroversi ini, kunjungan Macron menjadi sorotan yang tidak hanya bersifat diplomatik tetapi juga budaya dan etika. Pemerhati warisan budaya menilai tindakan itu berpotensi mengabaikan prinsip konservasi warisan dunia.
Sumber : https://www.cnnindonesia.com/nasional/20250530194747-20-1234858/apa-itu-kunto-bimo-mitos-di-candi-borobudur-yang-dicoba-macron
Penulis : Arnelya NL








