Sosiolog Sebut Prostitusi di Sekitar IKN Terorganisir, Bukan Sekadar Masalah Moral

admin

Ilustrasi. Prostitusi. (sumber : shutterstock)

Kabaristimewa.id, Balikpapan – Praktik prostitusi di sekitar Ibu Kota Nusantara (IKN), tepatnya di Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur, dinilai sebagai gejala sosial dari perkembangan wilayah. Sosiolog Universitas Mulawarman (Unmul), Sri Murlianti, menyebut fenomena ini sebagai konsekuensi logis dari lonjakan penduduk dan lemahnya kontrol sosial.

Menurut Sri, praktik semacam ini sudah berlangsung jauh sebelum pembangunan IKN dimulai. Namun karena dulunya jumlah penduduk masih sedikit dan kontrol sosial kuat, aktivitas prostitusi relatif terkendali. “Prostitusi itu bukan hal baru,” ujarnya, Rabu (10/7/2025).

Baca juga  Pemerintah Siap Beri 1 Unit Apartemen bagi ASN yang Pindah ke IKN, yang Jomblo harus Berkeluarga dulu

Ia menjelaskan, banyaknya pendatang yang datang tanpa keluarga membuat kontrol moral menjadi longgar. “Sekarang, banyak pendatang yang datang tanpa keluarga, bahkan jauh dari pasangannya. Hasrat seksual itu naluriah,” katanya.

Peningkatan permintaan terhadap jasa prostitusi, menurut Sri, tidak bisa dilepaskan dari komposisi demografi yang didominasi pekerja laki-laki. Ia menilai ini sebagai salah satu alasan prostitusi semakin marak di kawasan sekitar IKN.

Baca juga  2,5 Miliar Orang Diprediksi Alami Gangguan Pendengaran pada 2050, Kemenkes Gaungkan Pencegahan

Satpol PP Penajam Paser Utara mencatat sebanyak 70 pekerja seks komersial (PSK) telah ditindak dalam dua tahun terakhir. “Razia kerap dilakukan di guest house sekitar Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP),” kata Kepala Bidang Trantibum Satpol PP PPU, Rakhmadi.

Sri menyoroti bahwa praktik ini tidak lagi bersifat individu, namun sudah menjadi industri jasa yang terorganisir. “Di belakangnya ada struktur bisnis, ada perekrutan, pelatihan, dan perputaran seperti perusahaan jasa,” jelasnya.

Baca juga  Akbar Haka: Tenggarong Harus Tampil sebagai Pemain Utama, Bukan Penonton

Beberapa lokasi di Kalimantan Timur, seperti KM 24 arah Samarinda-Bontang dan KM 13 arah Balikpapan, menurut Sri, menunjukkan pola kerja PSK berpindah-pindah layaknya sistem kontrak. “Rata-rata pelakunya bukan warga lokal Kaltim,” tambahnya.

Sri menegaskan bahwa masalah ini tidak bisa dilihat sebatas hukum atau moral saja. “Pemerintah harus mengantisipasi sejak dini, bukan hanya bangun fisik IKN, tapi juga membangun manusianya,” pungkasnya.

Sumber : https://www.detik.com/kalimantan/berita/d-8005480/pandangan-pakar-soal-prostitusi-yang-menjamur-di-sekitar-ikn
Penulis : Arnelya NL

Berita-berita terbaru

Tinggalkan komentar