Kabaristimewa.id, Tenggarong – Nelayan di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) segera mendapat kemudahan akses bahan bakar melalui pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) di Desa Handil Terusan, Kecamatan Anggana. PT Mahakam Gerbang Raja Migas (MGRM) menyiapkan investasi sebesar Rp6 miliar untuk membangun fasilitas tersebut, yang kini mulai memasuki tahap pengerjaan fisik.
Pembangunan SPBN ini merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah dalam menyediakan sarana pendukung bagi aktivitas perikanan tangkap. Kehadiran fasilitas tersebut diharapkan mempermudah nelayan memperoleh bahan bakar untuk melaut tanpa harus menghadapi kendala akses seperti sebelumnya.
Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri, mengatakan pembangunan SPBN di Anggana merupakan salah satu penugasan yang diberikan kepada MGRM. Pemerintah daerah juga merencanakan fasilitas serupa di wilayah hulu Kukar.
Menurut Aulia, pengerjaan di Anggana mulai berjalan setelah perizinan yang dibutuhkan diterbitkan. Dari sisi pembiayaan, perusahaan daerah tersebut juga telah menyiapkan modal untuk mendukung pembangunan.
“SPBN di Anggana mulai dibangun setelah izinnya terbit. Persiapan modal juga sudah tersedia sehingga pengerjaan bisa dilanjutkan,” ujar Aulia, Senin (26/10/2026).
Ia menjelaskan, keterlibatan MGRM tidak hanya terbatas pada pengelolaan fasilitas. Perusahaan tersebut juga bertanggung jawab menyediakan pembiayaan dan menjadi pemilik SPBN yang dibangun.
“Bukan hanya mengelola, MGRM juga membiayai pembangunan dan nantinya menjadi pemilik fasilitas tersebut,” tegasnya.
Sementara itu, Direktur Utama PT MGRM, Efri Novianto, mengungkapkan perizinan pembangunan SPBN telah diselesaikan di tingkat Pertamina Patra Niaga. Saat ini, pekerjaan fisik mulai berlangsung dengan progres yang diperkirakan mencapai 10 hingga 20 persen.
Selain menyiapkan lahan, MGRM juga tengah menunggu pengiriman dua unit tangki penyimpanan bahan bakar. Masing-masing tangki memiliki kapasitas 15 kiloliter (KL) untuk menunjang operasional SPBN nantinya.
“Berdasarkan perhitungan kami, progres pengerjaan saat ini sekitar 10–20 persen,” kata Efri.
Dengan anggaran Rp6 miliar yang telah disiapkan, MGRM menargetkan pembangunan fisik dapat selesai pada akhir 2026. Apabila sesuai rencana, fasilitas pengisian bahan bakar bagi nelayan itu diharapkan mulai beroperasi pada Januari 2027.
Efri menjelaskan, pembangunan SPBN membutuhkan waktu cukup panjang karena proses perizinannya melibatkan sejumlah instansi. Tahapan awal mencakup pendataan nelayan yang akan menjadi penerima layanan, termasuk persyaratan kepemilikan PAS Kecil yang diterbitkan melalui Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP).
Data nelayan tersebut kemudian diproses melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi sebelum diteruskan ke Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk memperoleh rekomendasi. Dokumen itu selanjutnya menjadi salah satu persyaratan dalam pengajuan perizinan kepada Pertamina Patra Niaga.
Selain tahapan tersebut, pemohon juga harus melengkapi dokumen lain, termasuk persetujuan kesesuaian kegiatan pemanfaatan ruang (PKPR) dan izin lingkungan. Banyaknya persyaratan administrasi membuat proses pembangunan membutuhkan waktu lebih lama.
Efri mengakui, prosedur perizinan yang panjang menjadi tantangan tersendiri, meskipun pembangunan SPBN ditujukan untuk membantu masyarakat pesisir mendapatkan akses bahan bakar.
“Proses perizinannya cukup rumit dan melibatkan banyak tahapan, padahal tujuan pembangunan ini untuk membantu nelayan,” ungkapnya.
Ia berharap pemerintah dapat menerapkan kebijakan percepatan perizinan, khususnya bagi pembangunan fasilitas pendukung di kawasan kampung nelayan. Penyederhanaan prosedur dinilai dapat mempercepat penyediaan sarana yang dibutuhkan masyarakat pesisir.
“Kami mendapat informasi mengenai rencana percepatan izin untuk kawasan kampung nelayan. Mudah-mudahan prosesnya nanti lebih sederhana dibandingkan yang kami jalani sekarang,” tutup Efri.
Pembangunan SPBN di Handil Terusan diharapkan menjadi langkah awal dalam memperluas akses bahan bakar bagi nelayan Kukar. Jika target pembangunan dan operasional tercapai, fasilitas tersebut dapat membantu menunjang aktivitas melaut sekaligus mendukung produktivitas sektor perikanan di wilayah Anggana. (Adv/Diskominfo Kukar)
Penulis: Prio Fuji Mustopa








