Hasil Tangkapan Merosot, Nelayan Danau Semayang Soroti Alat Tangkap Tak Ramah Lingkungan

admin

Kabaristimewa.id, Tenggarong – Musim ikan lele air tawar atau ikan keli kembali datang di Desa Semayang, Kecamatan Kenohan, Kutai Kartanegara. Namun, musim yang dahulu menjadi masa panen yang ditunggu-tunggu para nelayan Danau Semayang kini tidak lagi memberikan hasil seperti tahun-tahun sebelumnya. Penurunan jumlah tangkapan serta semakin singkatnya durasi musim panen membuat nelayan harus menghadapi realitas yang kian berat.

Sejumlah nelayan setempat mengeluhkan hasil tangkapan ikan keli yang terus menurun dari tahun ke tahun. Tidak hanya dari sisi kuantitas, waktu panen yang dahulu bisa berlangsung cukup lama kini semakin pendek. Kondisi ini dirasakan langsung oleh Imran, nelayan Danau Semayang yang telah puluhan tahun menggantungkan hidupnya dari perairan tersebut.

Menurut Imran, musim ikan keli biasanya datang bersamaan dengan naiknya permukaan air danau yang merendam lahan gambut di sekitarnya. Pada kondisi tersebut, ikan keli keluar dari habitatnya dan mudah ditangkap menggunakan alat tangkap tradisional berupa jebakan kawat besi yang dikenal dengan sebutan pengilar keli. Namun, hasil yang diperoleh kini jauh dari harapan.

Baca juga  Wabup Kukar Serahkan Bantuan Perikanan ke Nelayan di Kukar, Rendi Solihin Terkenang Perjuangan Orang Tuanya

“Dulu, pasang pengilar di belakang rumah saja sudah bisa dapat ikan. Sekarang, sudah tidak bisa seperti itu lagi,” ujar Imran, Jumat (2/1/2026).

Ia mengenang, sekitar tiga hingga lima tahun lalu, sekali melaut dirinya bisa membawa pulang puluhan kilogram ikan keli. Bahkan, satu pengilar yang dipasang mampu menghasilkan lebih dari satu kilogram ikan.

“Pernah dapat sampai 50 kilo. Satu pengilar bisa berisi satu kilo lebih,” kenangnya.

Kondisi tersebut sangat berbeda dengan situasi saat ini. Dalam sehari, Imran mengaku hanya mampu mengumpulkan kurang dari lima kilogram ikan. Meski sesekali hasil tangkapan lebih banyak, namun hal itu tidak terjadi secara konsisten seperti dulu.

Dari sisi harga, ikan keli umumnya dibeli oleh pengepul dengan kisaran Rp25 ribu hingga Rp30 ribu per kilogram. Namun ketika pasokan melimpah, harga justru jatuh cukup drastis.

Baca juga  Mengungkap Keajaiban Wisata Kampung Kopi Luwak di Kalimantan Timur

“Harga bisa turun sampai Rp8 ribu per kilo untuk ikan besar. Kalau yang kecil, Rp5 ribu sampai Rp3 ribu, bahkan kadang tidak laku sama sekali,” jelasnya.

Tak hanya jumlah hasil tangkapan yang menurun, durasi musim ikan keli juga dinilai semakin singkat. Jika sebelumnya musim panen bisa berlangsung hingga satu bulan, kini hanya bertahan beberapa hari saja, bahkan kurang dari satu pekan.

Keluhan serupa juga disampaikan Murjani, nelayan Danau Semayang lainnya. Dalam beberapa hari terakhir, ia mengaku hanya mampu mengumpulkan sekitar 18 kilogram ikan keli, jauh di bawah hasil panen pada musim-musim sebelumnya.

“Sekarang paling 5 sampai 8 kilo per hari. Dulu waktu musim bagus, sehari bisa 20 sampai hampir 30 kilo,” ungkap Murjani.

Menurutnya, penurunan hasil tangkapan ini sangat berdampak pada pendapatan nelayan, terlebih di tengah meningkatnya biaya hidup.

Baca juga  Dukung Pelaksanaan Uji Sertifikasi Pada Sektor Pariwisata, Dispar Kukar Gelar Pelatihan

“Bahan bakar naik, kebutuhan rumah tangga juga naik. Tapi hasil tangkapan makin sedikit. Jelas terasa berat,” tambahnya.

Imran menduga, menurunnya populasi ikan keli di Danau Semayang tidak lepas dari perubahan pola dan cara penangkapan. Ia menyoroti semakin maraknya penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan, seperti jaring dengan lubang terlalu kecil, alat tangkap berukuran besar, hingga praktik penangkapan menggunakan setrum.

Menurutnya, penggunaan alat tangkap tersebut berpotensi merusak ekosistem danau serta mengancam keberlanjutan populasi ikan.

“Kalau cara-cara seperti ini terus dibiarkan, ikan pasti akan semakin habis,” pungkas Imran.

Para nelayan berharap adanya perhatian dan pengawasan lebih serius dari pihak terkait agar praktik penangkapan ikan di Danau Semayang dapat kembali dilakukan secara berkelanjutan, sehingga ekosistem danau tetap terjaga dan mata pencaharian nelayan tidak semakin terpuruk. (Tsa)

Berita-berita terbaru