Erau 2025 Dikukuhkan dengan Adat, Ritual Berlangsung hingga 21 September

admin

Press Release Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura terkait Erau 2025

Kabaristimewa.id, Kutai Kartanegara – Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura memastikan bahwa pembukaan Festival Erau tahun 2025 tetap akan dilaksanakan oleh Sultan. Hal tersebut disampaikan langsung oleh Ketua Panitia Adat Erau, Pangeran Heriansyah, melalui konferensi pers yang digelar pada Minggu, 7 September 2025.

Menurutnya, pembukaan oleh Sultan merupakan pakem adat yang tidak bisa diubah begitu saja. Prosesi ini telah diwariskan secara turun-temurun sebagai bagian penting dari budaya Kesultanan. “Ini penting agar sejarah dan nilai adat tidak hilang ditelan zaman. Erau adalah identitas, bukan sekadar perayaan,” tegas Pangeran Heriansyah.

Baca juga  Kemajuan Pendidikan Kukar: Rapor 'Baik' untuk Jenjang SMP di Tahun 2024

Ia menjelaskan bahwa prosesi Erau sudah dimulai sejak 5 September dengan ziarah ke makam para raja dan sultan terdahulu. Selain itu, ritual besawai juga telah digelar di Kutai Lama sebagai bentuk komunikasi spiritual dengan alam gaib.

“Prosesi ini bukan sekadar simbol, tapi wujud penghormatan kepada leluhur sekaligus pemberitahuan kepada alam bahwa Erau segera dimulai,” jelas Heriansyah dalam pernyataannya.

Baca juga  Festival Kreatif Pemuda Ramadan ke-2 Dibuka di Kutai Kartanegara, Sunggono Ajak Pemuda Berkarya Positif

Rangkaian upacara adat Erau akan terus berlangsung hingga 21 September. Salah satu prosesi penting adalah pendirian tiang ayu di Kedaton yang menjadi simbol resmi dimulainya festival.

Pangeran Heriansyah mengungkapkan bahwa saat tiang ayu didirikan, Sabda Pandita Ratu akan disampaikan. “Inilah momen sakral yang menjadi inti dari seluruh rangkaian,” ucapnya menekankan pentingnya prosesi tersebut dalam struktur adat Erau.

Baca juga  Prestasi Gemilang Kelurahan Maluhu, Contoh Nyata Kemajuan Kukar

Selain itu, berbagai ritual lainnya juga akan diselenggarakan seperti Haul Jamak, Titi Bende, Beluluh, dan Menjamu Benua. Masing-masing prosesi memiliki filosofi tersendiri, mulai dari pembersihan energi negatif hingga wujud kekuatan Sultan dalam memimpin rakyat.

Kesultanan juga menyampaikan apresiasinya kepada pemerintah daerah yang mendukung pelestarian tradisi. Dengan pengembalian peran Sultan sebagai pembuka Erau, Kesultanan berharap nilai-nilai budaya tetap terjaga di tengah perkembangan zaman.

Adv/DiskominfoKukar

Berita-berita terbaru

Tinggalkan komentar