Gempa Perparah Runtuhan, Evakuasi Ponpes Al Khoziny Butuh Upaya Khusus

admin

Proses evakuasi di Pondok Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo pasca gempa. Foto/dok. BNBP

Kabaristimewa.id, Sidoarjo – Gempa bumi yang mengguncang Sumenep pada Senin (29/9) sore berdampak serius pada proses evakuasi di Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur. Bangunan ponpes yang sudah ambruk semakin parah runtuhannya sehingga menyulitkan akses tim penyelamat untuk menolong para korban.

Kepala BNPB Letjen Suharyanto menjelaskan, celah reruntuhan yang awalnya cukup lebar kini semakin menyempit. “Reruntuhan yang semula masih ada celah sekitar 30 cm untuk tim evakuasi masuk menolong korban, jadi turun lagi tinggal sekitar 10 sampai 15 cm,” ungkapnya, Kamis (2/10).

Untuk mengatasi hal tersebut, tim SAR berinisiatif membuat gorong-gorong sebagai jalur baru menuju titik korban. Upaya ini dilakukan karena akses sebelumnya sudah tidak memungkinkan. “Tim evakuasi jadi harus membuat lubang atau gorong-gorong untuk masuk ke titik korban,” kata Suharyanto menambahkan.

Baca juga  Hati-hati! Kebiasaan Makanan Berlemak dan Tinggi Gula Saat Lebaran Bisa Picu Lonjakan Kolesterol

Suharyanto menegaskan, pascagempa Sumenep, proses penyelamatan membutuhkan kerja ekstra. “Gempa mengakibatkan runtuhnya pondok tersebut tambah parah sehingga tentu saja proses evakuasi memerlukan upaya khusus,” ujarnya.

Meski penuh tantangan, hasil positif mulai terlihat. Pada Rabu (1/10) sore, tim evakuasi berhasil menyelamatkan seorang santri dalam kondisi hidup. “Alhamdulillah, Rabu sore ini sudah berhasil menyelamatkan satu santri yang masih hidup dan sekarang proses evakuasi sedang terus dilakukan,” kata Suharyanto.

Hingga Rabu (1/10), tercatat sebanyak 7 korban berhasil dievakuasi dari 15 titik pencarian. Dari jumlah itu, dua di antaranya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Secara keseluruhan, jumlah korban yang telah dievakuasi mencapai 107 orang, dengan lima korban dinyatakan meninggal.

Baca juga  Hujan Petir dan Ancaman Banjir Rob, Ini Peringatan BMKG

Kepala Basarnas, Marsda TNI Mohammad Syafii, menjelaskan bahwa timnya masih mendeteksi adanya tujuh korban yang merespons dari balik reruntuhan. “Sesuai teori, memang 72 jam (3 hari). Namun saat kami sudah bisa menyentuh korban: kami sudah bisa menyuplai minuman, vitamin, infonya sudah bisa kami berikan. Ini memungkinkan yang bersangkutan bisa bertahan lebih lama,” jelas Syafii.

Istilah golden time, kata dia, menjadi kunci utama dalam operasi SAR. Golden time adalah batas waktu 72 jam atau tiga hari di mana korban masih memiliki kemungkinan bertahan hidup meski terjebak tanpa makanan dan minuman. Karena itu, tim penyelamat harus berpacu dengan waktu agar peluang menyelamatkan korban semakin besar.

Baca juga  Aksi Cepat Tim SAR Selamatkan Wisatawan Malaysia di Perairan Gili Lawa NTT

Mengacu pada waktu kejadian gempa, yaitu Senin (29/9) pukul 15.00 WIB, maka golden time akan berakhir pada Kamis (2/10) sore. Hal ini membuat tim SAR semakin intensif melakukan pencarian dengan berbagai metode, termasuk membuat jalur alternatif evakuasi.

Suharyanto berharap dukungan semua pihak dapat memperlancar operasi penyelamatan. “Semoga nanti bertambah lagi santri yang masih hidup bisa diselamatkan,” pungkasnya. Sementara itu, tim SAR dan Basarnas terus bekerja keras mengejar detik demi detik golden time yang tersisa.

Sumber : https://news.detik.com/berita/d-8140632/tim-sar-buat-gorong-gorong-untuk-evakuasi-korban-ponpes-roboh-di-sidoarjo

Berita-berita terbaru

Tinggalkan komentar