Kabaristimewa.id – Data terbaru yang disampaikan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan besarnya dampak bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda tiga provinsi di Sumatera. Dalam rapat terbatas yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto pada Minggu, 7 Desember 2025, Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengungkapkan angka korban meninggal mencapai 921 orang. Ia menyampaikan laporan tersebut secara langsung dalam siaran Sekretariat Presiden. “Per hari ini meninggal dunia 921 orang,” kata Suharyanto.
Selain korban meninggal, BNPB juga mencatat jumlah warga yang masih hilang kontak sebanyak 392 orang. Proses pencarian dan evakuasi terus dilakukan, namun sejumlah wilayah masih sulit dijangkau. Kondisi ini membuat angka tersebut dapat berubah sewaktu-waktu. “Ini di tiga provinsi baik Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat,” ujar Suharyanto.
Di Sumatera Utara, jumlah korban meninggal dilaporkan sebanyak 329 jiwa, sementara 82 orang belum ditemukan. Provinsi ini termasuk salah satu wilayah dengan kerusakan terparah akibat banjir bandang yang melanda beberapa kabupaten. Petugas masih berupaya membuka akses yang tertutup material longsor dan lumpur. Proses evakuasi disebut berjalan cukup berat.
Sementara itu, di Sumatera Barat jumlah korban meninggal mencapai 226 orang dengan 213 orang lainnya masih hilang. Daerah perbukitan dan aliran sungai yang meluap memperburuk kondisi di lapangan. Infrastruktur rusak dan curah hujan yang tinggi membuat mobilitas penyelamatan terkendala. Pemerintah daerah bekerja sama dengan aparat dan relawan untuk mempercepat proses pendataan.
Aceh menjadi provinsi dengan jumlah pengungsi terbesar, yakni mencapai 914.202 orang. Korban meninggal di wilayah ini tercatat 366 orang, sedangkan 97 lainnya masih dicari. Suharyanto menjelaskan bahwa dua kabupaten, Bener Meriah dan Aceh Tengah, masih terisolasi akibat akses transportasi yang terputus. “Aceh untuk yang terisolir, yang masih cukup berat ada dua kabupaten,” ujarnya.
Jumlah pengungsi secara keseluruhan mencapai 975.079 jiwa dari ketiga provinsi. Banyak wilayah yang masih terdampak pemadaman listrik, kerusakan jembatan, dan gangguan jaringan komunikasi. Kondisi tersebut membuat distribusi logistik harus dilakukan dengan cara bertahap. BNPB memastikan bahwa kebutuhan dasar para pengungsi tetap menjadi prioritas.
Dalam rapat terbatas, Presiden Prabowo menerima laporan rinci dari BNPB dan meminta percepatan penanganan darurat. Pemerintah pusat mengoordinasikan bantuan dari berbagai kementerian dan lembaga untuk mendukung operasi di lapangan. Upaya penyaluran logistik, pembukaan akses jalan, serta evakuasi korban terus diperkuat. Pemerintah menegaskan bahwa keselamatan warga menjadi fokus utama.
BNPB menekankan bahwa data ini bersifat dinamis dan terus diperbarui seiring berlangsungnya proses evakuasi. Dengan cuaca yang masih tidak stabil dan banyak wilayah belum terjangkau, potensi perubahan angka masih sangat terbuka. Pemerintah meminta masyarakat tetap waspada dan mengikuti arahan petugas di lapangan. Koordinasi lintas lembaga terus dijalankan untuk menanggulangi dampak bencana secara menyeluruh.








