Kisah Darussalam Selamat dari Banjir Aceh Tamiang: Menyeberang Lewat Batang Pinang

admin

Banjir bandang di Aceh Tamiang. Foto/Antara/Suhendra

Kabaristimewa.id, Aceh Tamiang – Banjir besar yang melanda Desa Sungai Liput, Kecamatan Kejuruan Muda, Aceh Tamiang pada 26 November 2025 memaksa banyak warga menyelamatkan diri di tengah malam. Salah satu keluarga yang mengalami detik-detik menegangkan itu adalah Darussalam dan istrinya, Mahyuni, bersama empat anak mereka. Meski tinggal di area perbukitan, gelombang banjir tetap menenggelamkan rumah mereka. Mahyuni menceritakan, “Jam 02.00 WIB, kami putuskan pergi meninggalkan rumah ke lebih belakang, ke atas bukit.”

Menurut Mahyuni, derasnya air membuat warga dari dataran rendah mencari perlindungan ke halaman rumahnya yang lebih tinggi. Namun banjir justru terus naik dan menutup seluruh area itu. Gelapnya malam, cuaca ekstrem, dan listrik yang padam menambah kepanikan warga. “Tetangga yang di bawah naik ke halaman rumah kami. Itu pun tenggelam juga,” ujar Mahyuni.

Baca juga  KPI Hentikan Tayang Xpose Uncensored Trans7, Usai Konten Pesantren Lirboyo Tuai Kecaman

Sekitar pukul 03.00 WIB, air makin meninggi hingga diperkirakan mencapai enam meter dari badan jalan. Warga akhirnya memutuskan menyebrangi anak sungai dengan peralatan seadanya. Karena tidak ada jembatan, mereka memakai batang pohon pinang sebagai pijakan darurat untuk menyeberang. “Anak sungai itu hanya pohon pinang jadi jembatannya. Itulah yang kami lewati,” ungkapnya.

Setelah berhasil melewati anak sungai, warga bergerak menelusuri bukit untuk menjauhi arus banjir yang semakin mendekat ke kaki bukit. Perjalanan dilakukan dalam kondisi hujan deras dan tanah yang licin sepanjang jalur evakuasi. Mereka akhirnya menemukan sebuah rumah di bukit yang lebih tinggi dan bertahan di sana selama delapan hari. “Warga bantu warga. Tidak bicara lagi bantuan pemerintah, tidak ada sama sekali,” tutur Mahyuni.

Baca juga  Satu Rumah di Sangasanga Hangus Terbakar, Dugaan Korsleting Listrik

Selama masa bertahan itu, kebutuhan pangan menjadi persoalan paling mendesak. Sejumlah pedagang lewat dengan perahu menawarkan bahan makanan, namun dengan harga yang sangat tinggi. Gas elpiji ukuran 3 kilogram dijual Rp150.000, beras lima kilogram dibanderol Rp120.000, dan mi instan mencapai Rp200.000 per kardus. “Kami tidak punya pilihan, anak-anak harus makan. Seberapa mahal pun kami beli,” kata Mahyuni.

Pada 2 Desember 2025, setelah delapan hari terisolasi, warga akhirnya dapat keluar dari desa. Kerusakan yang mereka lihat begitu parah, dengan sekitar 90 persen rumah di permukiman itu hancur diterjang banjir. Darussalam menyebutkan bahwa sekitar 600 jiwa dari desanya terdampak secara langsung. Kondisi tersebut membuat sebagian warga memilih mengungsi ke daerah lain.

Baca juga  Pengantin Pingsan di Hari Pernikahan, WO Nafa Wedding Jadi Sorotan

Mahyuni dan anak-anak kini berlindung di rumah saudara di Lhokseumawe, sementara Darussalam kembali ke Aceh Tamiang. Ia pulang untuk membersihkan rumah yang tersisa dan membantu warga lain menangani puing-puing banjir. “Anak dan istri di Lhokseumawe itu. Biar aman,” ucap Darussalam.

Banjir besar yang menerjang kawasan tersebut tidak hanya menghancurkan ratusan rumah, tetapi juga memutus aliran listrik serta menyulitkan proses evakuasi. Hingga kini, warga masih berupaya memulihkan kehidupan mereka setelah bencana yang dianggap sebagai salah satu yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir.

Sumber : https://regional.kompas.com/read/2025/12/06/145601578/perjuangan-warga-aceh-tamiang-bertahan-8-hari-tanpa-bantuan-pemerintah

Berita-berita terbaru